PENDAHULUAN

Latar Belakang

Menopause dikenal sebagai masa berakhirnya menstruasi atau haid, dan sering dianggap menjadi momok dalam kehidupan wanita. Sebagian besar wanita mulai mengalami gejala menopause pada usai 40-an dan puncaknya  tercapai pada usia 50 tahun. Kebanyakan mengalami gejala kurang dari 5 tahun dan sekitar 25% lebih dari 5 tahun. Namun bila diambil rata-ratanya, umumnya seorang wanita akan mengalami menopause sekitar usia 45-50 tahun (Rostiana 2009). 

Menurut perhitungan para ilmuwan pada tahun 2030 mendatang diperkirakan jumlah perempuan di dunia yang memasuki masa menopause akan mencapai 1,2 milyar orang. Itu artinya sebanyak 1,2 milyar perempuan akan memasuki usia lebih 50 tahun, dan angka itu merupakan tiga kali lipat angka sensus tahun 1990 tentang jumlah perempuan menopause (Siswono 2001). Sementara di Indonesia menurut badan pusat statistika (BPS), pada 2025 diperkirakan akan ada 60 juta wanita menopause (Anonim 2007).

Akibat perubahan dari haid menjadi tidak haid lagi, otomatis terjadi perubahan organ reproduksi wanita. Perubahan fungsi indung telur akan  memengaruhi hormon dalam yang kemudian memberikan pengaruh pada organ tubuh wanita pada umumnya.  Tidak heran apabila kemudian muncul berbagai keluhan fisik, baik yang berhubungan dengan  organ reproduksinya maupun organ tubuh pada umumnya. Tidak hanya itu, perubahan ini seringkali memengaruhi keadaan psikis seorang wanita (Rostiana 2009).

Keluhan psikis sifatnya sangat individual yang dipengaruhi oleh sosial budaya, pendidikan, lingkungan, dan ekonomi. Keluhan fisik maupun psikis ini tentu saja akan mengganggu kesehatan wanita yang bersangkutan termasuk perkembangan psikisnya. Selain itu, bisa memengaruhi kualitas hidupnya. Dalam menyingkapi dirinya yang akan memasuki masa menopause, beberapa wanita menyambutnya dengan biasa. Mereka menganggap kondisi ini sebagai bagian dari siklus hidupnya (Rostiana 2009).

Gejala-gejala psikologis pada masa menopause adalah perasaan murung, kecemasan, irritabilitas dan perasaan yang berubah-ubah, labilitas emosi, merasa tidak berdaya, gangguan daya ingat, konsentrasi berkurang, sulit mengambil keputusan, merasa tidak berharga (Glasier dan Gebbie 2006). Sementara gejala-gejala fisik yang timbul pada menopause adalah semburan rasa panas (hot flushes) dan keringant pada malam hari, kelelahan, insomnia, kekeringan kulit dan rambut, sakit dan nyeri pada persendian, sakit kepala, palpitas (denyut jantung cepat dan teratur), dan berat badan bertambah (Anonim 2007).

Makalah ini ingin menjelaskan mengenai pengertian menopause dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, bagaimana proses fisiologis menopause, gejala fisik dari menopause, serta temuan-temuan ilmiah terkait makanan dan minuman yang cocok untuk dikonsumsi oleh wanita yang sedang mengalami menopause. Selain itu akan dijelaskan juga mengenai terapi estrogen pada wanita menopause.

Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai pengertian menopause, faktor-faktor yang mempengaruhi menopause, bagaimana proses fisiologis menopause, dan gejala fisik dari menopause. Selain itu untuk memberikan informasi mengenai temuan-temuan ilmiah terkait makanan dan minuman yang dianjurkan bagi wanita menopause serta memberikan penjelasan mengenai terapi estrogen pada wanita menopause.

Kegunaan

Makalah ini diharapkan dapat menjadi tambahan pengetahuan untuk perkembangan ilmu kesehatan khususnya ilmu gizi. Selain itu diharapkan dapat memberikan informasi tambahan bagi para konsultan gizi maupun calon konsultan gizi tentang menopause sehingga dapat memberikan konsultasi gizi secara tepat. 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengertian Menopause

Kasdu (2004) mendefinisikan menopause merupakan sebuah kata yang mempunyai banyak arti, men dan pauseis adalah kata Yunani yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan berhentinya haid. Rahman (1995), mengatakan menopause terjadi pada usia menjelang 50 tahun yang ditandai dengan berhentinya haid terakhir dari uterus yang dipengaruhi oleh hormon-hormon dari otak dan sel-sel telur.

Drajat (1994) mendefinisikan menopause sebagai peralihan masa reproduksi ke masa non reproduksi (tua) dimana kemampuan alat-alat reproduksinya mulai menurun yang disebabkan berkurangnya hormon estrogen dan  progesteron yang mulai memegang peranan sangat penting dalam berbagai aktivitas tubuh. Baziad (2002) menyebutkan menopause sebagai pendarahan rahim yang masih diatur oleh fungsi hormon indung telur. Istilah  menopause digunakan untuk mengatakan suatu perubahan hidup dan pada saat itulah wanita mengalami periode terakhir masa haid. Menopause adalah saat dimana tidak ada telur yang masuk lagi sehingga tidak direproduksi oleh indung telur, maka wanita itu tidak dapat hamil lagi (Rahman, 1995).

Menurut Takesihaeng (2000) masa  menopause adalah keadaan dimana seseorang berhenti dari masa haidnya selamanya. Menopause berarti berakhir dari kesuburan dan peralihan menjadi seorang wanita tua, pada suatu masa menopause berarti akhir daya tarik seksual dan dalam beberapa masyarakat primitif masih diartikan sebagai penurunan pada wanita tua yang dianggap netral secara seksual. Secara singkat dapat dikatakan bahwa menopause merupakan suatu proses peralihan dari masa produktif menuju perubahan secara perlahan-lahan ke masa non produktif yang disebabkan oleh berkurangnya hormon  estrogen dan  progesteron seiring dengan bertambahnya usia.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Menopause

Menurut Blackburn dan Davidson (1990), faktor-faktor yang mempengaruhi menopause adalah: 

a. Umur sewaktu mendapat haid pertama kali (menarch)

Beberapa penelitian menemukan hubungan antara umur pertama mendapat haid pertama dengan umur sewaktu memasuki  menopause. Semakin muda umur sewaktu mendapat haid pertama kali, semakin tua usia memasuki menopause.

b. Kondisi kejiwaan dan pekerjaan

Ada peneliti yang menemukan pada wanita yang tidak menikah dan bekerja, umur memasuki menopause lebih muda dibandingkan dengan wanita sebaya yang tidak bekerja dan menikah.

c. Jumlah anak 

Ada peneliti yang menemukan, makin sering melahirkan, makin tua baru memasuki menopause. Kelihatannya kenyataan ini lebih sering terjadi pada golongan ekonomi berkecukupan dibandingkan pada golongan masyarakat ekonomi kurang mampu.

d. Penggunaan obat-obat Keluarga Berencana (KB)

Karena obat-obat KB memang menekan fungsi hormon dari indung telur, kelihatannya wanita yang menggunakan pil KB lebih lama baru memasuki umur menopause.

e. Merokok

Wanita perokok kelihatannya akan lebih muda memasuki usia menopause dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok.

f. Cuaca dan ketinggian tempat tinggal dari pemukaan laut

Wanita yang tinggal di ketinggian lebih dari 2000-3000 m dari permukaan laut lebih cepat 1-2 tahun memasuki usia menopause dibandingkan dengan wanita yang tinggal di ketinggian < 1000 m dari permukaan laut.

g. Sosio-ekonomi

Menopause juga dipengaruhi oleh faktor status sosio-ekonomi, di samping pendidikan dan pekerjaan suami. Begitu juga hubungan antara tinggi badan dan berat badan wanita yang bersangkutan termasuk dalam pengaruh sosio-ekonomi.

Proses Fisiologis Menopause

Klimakterium adalah masa yang bermula dari akhir tahap reproduksi, berakhir pada awal senium (usia tua) dari terjadi pada wanita berumur 40-65 tahun. Masa ini ditandai dengan berbagai keluhan endokrinologi dan vegetatif. Keluhan tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya fungsi ovarium. Gejala menurunnya fungsi ovarium adalah henti haid pada seorang wanita yang dikenal dengan menopause (Sastrawan 1997).

Menopause adalah terhentinya ovulasi yang disebabkan tidak adanya respon oosit indung telur (ovarium) dan secara umum pada usia antara 47-53 tahun. Menopause secara biological didefinisikan sebagai berakhirnya menstruasi, pertanda bahwa hilangnya kemampuan untuk memilki anak. Menopause bersamaan dengan penurunan estrogen (hormon seks wanita yang utama) menjadi 1/10 dari jumlah sebelummya (Camellia 2008).

Kurun waktu 4-5 tahun setelah menopause disebut pramenopause, sedangkan kurun waktu 3-5 tahun setelah menopause disebut sebagai masa pascamenopause. Masa pramenopause, menopause dan pascamenopause dikenal sebagai masa klimakterium sedangkan keluhan-keluhan yang terjadi pada masa tersebut disebut sebagai sindroma klimakterik (Camellia 2008).

Menopause dapat terjadi juga segera setelah pembedahan pembuangan ovarium. Perimenopause mengacu pada tahun-tahun sekitar menopause dimana fungsi ovarium mulai berubah. Jumlah sel telur menurun dan ovarium menjadi lebih resisten terhadap aksi Follicie-Stimulating Hormon (FSH), ovarium mulai menghasilkan penurunan jumlah estrogen, progesteron dan androgen. Hilangnnya negative feedback dari estrogen ovarium menyebabkan peningkatan sekresi FSH dan Luteinizing Hormon (LH).  Terdapat juga penurunan sekresi inhibin glikoprotein (secara selektif menghambat FSH). Aksi peristiwa ini mengakibatkan peningkatan FSH menjadi menetap, yang dapat menjadi tanda bahwa menopause sudah dekat (Thompson 2003).

Gejala vasomotor mulai terjadi pada masa ini. Penyebab pasti dari gejala ini tidak diketahui. Mungkin terkait pada sekresi LH. Gejala ini memperlihatkan terjadi secara bersamaan dangan jumlah LH yang naik turun dan tidak FSH. Gejala didahului adanya tanda prodromal secara subjektif bahwa flush sedang dimulai. Keadaan ini dapat diukur, terjadi peningkatan panas diseluruh permukaan tubuh, dan temperatur pusat yang menurun pada waktu singkat, flush tidak dilepaskan dari panas tubuh yang terakumulasi tapi lebih merupakan eksitasi yang tidak sesuai secara tiba-tiba dari mekanisme pelepas panas. Hubungan ini terhadap naik-turunnya LH dan perubahan temperatur dalam otak tidak dimengerti. Pengamatan bahwa flush terjadi setelah hipofliksetomi mendukung bahwa mekanisme ini tidak dibangkitkan secara langsung oleh pelepasan LH (Thompson 2003).

Hot Flush digambarkan berupa onset yang tiba-tiba dari memerahnya kulit bagian kepala, leher dan dada bersamaan dengan perasaan panas tubuh yang hebat dan diakhiri oleh (kadang-kadang) keringat yang banyak. Lamanya flush bervariasi dari beberapa detik sampai beberapa menit, frekuensi yang jarang dapat berulang tiap menit. Akhirnya flush menjadi lebih sering muncul dan hebat pada malam hari, ketika wanita terjaga dari tidur atau selama masa-masa stess. Meskipun flush dapat terjadi pada pramenopause, pada kebanyakan wanita ini berkahir 1-2 tahun, tetapi sebanyak 25% lebih lama dari 5 tahun (Sastrawan 1997).

Siklus menstruasi mungkin anovulasi, menimbulkan menstruasi hilang atau perdarahan yang ireguler. Dengan penurunan jumlah estrogen wanita dapat mengalami insomnia, masalah dengan konsentrasi, kehilangan memori jangka pendek dan iritabel, akhirnya produksi estrogen dan progesteron ovarium berhenti. Dan hal ini memperisposisi untuk terjadinya osteoporosis, dan penyakit kardiovaskular. Pada menopause yang alami ovarium tetap utuh dan terus mensekresi androgen termasuk testosteron dan androspenedion yang dapat diubah menjadi estron (estrogen lemah) tapi produksi testosteron ovarium turun menjadi 30% (ini menerangkan 40% produksi testosteron pasca menopause) dimana sisanya dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Androgen dari kedua sumber diaromatisasi pada beberapa jaringan perifer, khususnya sel lemak menjadi estron. Oleh karena itu wanita yang obesitas dapat memilki jumlah estrogen endogen pascamenopause yang lebih tinggi dan lebih sedikit gejala defisiensi estrogen yang muncul (Thompson 2003).

Estrogen memilki efek yang luas pada system saraf pusat, memperlihatkan kemampuannya untuk merubah konsentrasi dan ketersediaan neurotransmitter seperti serotonin dan noradrenalin. Contohnya estrogen meningkatkan jumlah pemecahan dari monoamine oxiduse, sehingga menghasilkan jumlah katekolamin juga serotonin lebih tinggi. Estrogen juga meningkatkan ikatan dari agonis GABA dan reseptor GABA yang upregulasi menjadi berubah pada keadaan depresi. Dalam hal efeknya terhadap sistem dopamin beberapa penelitian mendukung bahwa estrogen meningkatkan sensitifitas dari sistem dopaminergik. Namun penelitian-penalitian lain telah menunjukkan estrogen dapat juga memilki efek penghambat aktifitas dopamin, khususnya reseptor D2. Meskipun estrogen memilki beberapa pengaruh pada sistem dopamin, ini belum jelas apakah efek ini bermakna atau relevan secara klinis (Camellia 2008)

Bukti-bukti yang ada mendukung bahwa hormon-hormon wanita memiliki pengaruh pada kerentanan gangguan mood pada wanita. Wanita yang menstruasi pada masa premenopause, usaha bunuh diri lebih sering pada minggu pertama setelah minggu keempat dari siklus menstruasi dimana dijumpai produksi esradiol (E2) menurun (Camellia 2008).

Gejala Fisik Menopause

Ada beberapa gejala  fisik yang banyak dialami oleh wanita menopause. Takesihaeng (2000) mengungkapkan gejala fisik yang mungkin dialami saat mencapai masa menopause adalah berupa rasa panas yang tiba-tiba menyerang bagian atas tubuh, keluar keringat yang berlebihan pada malam hari, sulit tidur, iritasi pada kulit, gejala pada mulut dan gigi, kekeringan vagina, kesulitan menahan buang air kecil, dan peningkatan berat badan.  Pada saat rasa panas menyerang bagian atas tubuh, wajah dan leher menjadi merah padam, kadang timbul juga noda kemerahan dikulit dada, punggung dan lengan.

Keluar keringat yang berlebihan pada malam hari terjadi akibat turunnya kadar estrogen dalam pembuluh darah. Selain pada keadaan fisik timbul beberapa keluhan psikologis yang kerap kali muncul pada wanita menopause.  Keluhan psikologis itu adalah adanya penurunan daya ingat terhadap hal-hal yang sebelumnya mudah untuk diingat, rasa cemas tanpa ada sebab yang jelas, mudah marah, serangan rasa panik (bentuk kecemasan yang lebih khusus, melibatkan bukan hanya sekedar perasaan tapi juga fisik), dan depresi (Takesihaeng 2000). 

Temuan-Temuan Ilmiah terkait Menopause

Pemberian minuman fungsional berbasis susu skim yang disuplementasi isoflavon kedelai sebanyak 100 mg/hari dan Zn sulfat 8 mg/hari, selama 2 bulan kepada para wanita premenopause, secara nayata meningkatkan kadar timulin dan fungsi estrogen endogen, tetapi tidak berpengaruh pada kadar estrogen (Winarsi et al. 2003).

Dengan meningkatnya aktifitas timulin, membuktikan bahwa gangguan sisitem imun pada usia lanjut sebagai akibat atrofi kelenjar timus, dapat diperbaiki dengan minuman fungsional berbasis susu skim yang disuplementasi dengan isoflavon kedelai dan Zn. Peningkatan aktivitas timulin tersebut berkorelasi positif dengan status antioksidan seluler dan sisitem imunitas humoral wanita premenopause. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa minuman fungsional berbasis susu skim yang disuplementasi dengan isoflavon kedelai dan Zn, bersifat imunopotensial bagi wanita premenopause (Winarsi et al 2003).

Dengan meningkatnya kadar timulin, maka status imun wanita premenopause dapat diperbaiki, sehingga dengan mengkonsumsi minuman fungsional ini para wanita dapat menikmati hari tua, yang ditunjukkan oleh adanya sistem kekebalan yang prima (Winarsi et al. 2003)

Menurut Dokter Hasto Wardoyo SpOG dan Dr Ova Emilia SpOG  bahwa pada usia 45 tahun perempuan dianjurkan mengonsumsi obat hormonal maupun melakukan terapi dengan mengonsumsi makanan yang mengandung hormon estrogen. Di Indonesia banyak makanan dan tumbuhan yang bisa dimanfaatkan yaitu tempe, pepaya, bengkuang, dan buah terong yang biasanya digunakan untuk sayuran. Suplementasi estrogen melalui obat diperlukan bagi perempuan menopause yang mengalami gangguan serius. Dianjurkan, langkah preventif sejak usia 45 dilakukan daripada cara pengobatan (Siswono 2001).

Ada proses yang pasti terjadi pada perempuan yaitu proses osteoporosis. Secara umum, perempuan akan kehilangan massa tulangnya antara 40-60 persen, lebih besar dibanding pria. Oleh sebab itu mengonsumsi kalsium penting sekali pada usia setengah baya. Dan untuk mendapatkan hubungan seksual yang tetap harmonis pada usia 51 tahun, selain mengonsumsi buah-buahan seperti jus pepaya atau jus bengkuang misalnya, beberapa kelompok olahraga usia lanjut di berbagai kota membuktikan pulihnya otot-otot dan hormon perempuan tersebut (Siswono 2001).

Terapi Estrogen pada Wanita Menopause

Di Amerika Serikat lebih banyak wanita meninggal karena penyakit jantung dibandingkan karena kanker. Dan penyakit jantung ini lebih berisiko bagi wanita yang telah mengalami menopause (berhenti menstruasi). Pada saat menopause, hormon estrogen menurun tajam dan peluang menderita penyakit jantung semakin meningkat. Mekanisme estrogen di dalam melindungi jantung adalah karena efek proteksi yang ditimbulkannya. Dalam publikasinya Heart Fitness for Life Mary P McGowan MD menuliskan bahwa estrogen akan meningkatkan kolesterol HDL (baik) dan menurunkan kolesterol LDL (jahat). Kolesterol LDL ini akan menimbulkan plak di dalam darah tetapi dengan kehadiran HDL yang tinggi yang berperan sebagai tukang sapu maka plak-plak yang mulai menempel akan dibersihkan (Khomsan 2002).

Adanya hormon estrogen pada wanita yang masih aktif menstruasi akan menekan Lp(a) atau lipoprotein(a). Kadar Lp(a) rata-rata adalah 2 mg/dl, dan apabila Lp(a) meningkat sampai 20-30 mg/dl maka akan muncul risiko penyakit jantung koroner. Lp(a) ini berperan sebagai penggumpal yang kemudian bersama-sama plak yang ada dalam pembuluh arteri akan menyumbat aliran darah sehingga muncul serangan jantung. Sampai saat ini belum diketahui peranan diet atau olahraga terhadap kadar Lp(a), terapi yang telah dikenal bermanfaat untuk menurunkan level Lp(a) adalah pemberian estrogen dan niacin (Khomsan 2002).

Estrogen sebenarnya bukan sekedar hormon pada wanita, karena diketahui bahwa estrogen juga dapat menjalankan fungsi sebagai antioksidan. Kolesterol LDL lebih mudah menembus plak di dalam dinding nadi pembuluh darah apabila dalam kondisi teroksidasi. Peranan estrogen sebagai antioksidan adalah mencegah proses oksidasi LDL sehingga kemampuan LDL untuk menembus plak akan berkurang. Peranan estrogen yang lain adalah sebagai pelebar pembuluh darah jantung sehingga aliran darah menjadi lancar dan jantung memperoleh suplai oksigen secara cukup (Khomsan 2002).

Dengan berkurangnya estrogen pada saat menopause maka tubuh wanita menjadi rentan terhadap risiko penyakit jantung. Terapi estrogen (Estrogen Replacement Therapy) bertujuan agar hormon estrogen yang semakin berkurang ini dapat terisi kembali. Pada umumnya payudara wanita yang mengalami terapi estrogen akan menjadi lembek, selain itu juga muncul gejala-gejala mual, lemah dan pusing. Namun demikian, kebanyakan efek samping ini akan hilang setelah beberapa minggu terapi (Khomsan 2002).

Dalam penelitian Postmenopausal Estrogen Progesterone Intervention diketahui bahwa kelompok wanita yang mendapat placebo (kontrol) dan kelompok terapi hormon, pada akhir penelitian yang berlangsung selama 3 tahun, mempunyai berat badan yang sama. Ini membuktikan, kekhawatiran bahwa terapi hormon akan meningkatkan berat badan tidak terbukti. Adalah wajar bahwa seiring dengan bertambahnya usia, wanita cenderung akan meningkat berat badannya dan ini sebenarnya dapat diatasi dengan diet dan olahraga (Khomsan 2002).

Penggunaan terapi estrogen selama 5-10 tahun tidak akan menyebabkan kanker payudara. Di Amerika kanker payudara ini membunuh 45.000 wanita setiap tahun, oleh karena itu kaum wanita mesti berhati-hati dalam menghadapi setiap risiko yang akan meningkatkan terjadinya kanker payudara. Wanita-wanita pengguna terapi estrogen jangka lama (>5-10 tahun) risikonya untuk terkena kanker payudara meningkat tipis. Namun sebenarnya mereka mempunyai kesempatan untuk melakukan deteksi dini atas munculnya kanker payudara ini (Khomsan 2002).

Sebagaimana diketahui bahwa wanita menopause juga cenderung mengalami osteoporosis (tulang rapuh). Jumlah wanita yang meninggal akibat komplikasi retak pinggul akibat osteoporosis ternyata lebih besar dibandingkan mereka yang meninggal akibat kanker. Dengan terapi estrogen maka risiko osteoporosis dapat ditekan. Dampak positif pemakaian terapi estrogen bagi wanita adalah pola tidur menjadi lebih baik, suasana batin lebih tenang, dan dapat memperbaiki hubungan seksual suami-istri (Khomsan 2002).

Apabila seorang wanita pada awalnya mempunyai kadar trigliserida darah tinggi (250 mg/dl) maka pemakaian terapi estrogen (pil) dapat merangsang peningkatan trigliserida. Terdapat keterkaitan metabolisme antara trigliserida dengan kolesterol HDL (baik). Apabila trigliserida tinggi maka HDL cenderung turun. Oleh karena itu sebelum menjalani terapi estrogen disarankan melakukan pemeriksaan profil lipid darah (Khomsan 2002).

Bagi wanita muda penderita kanker payudara yang telah menjalani kemoterapi, menopause mungkin datang lebih awal dan lebih mendadak. Hal ini disebabkan oleh berhentinya fungsi ovarium untuk menghasilkan estrogen. Kekhawatiran utama adalah bahwa wanita muda penderita kanker ini mungkin terpaksa harus menjalani terapi estrogen lebih lama, dan secara teoritis penggunaan terapi estrogen jangka panjang akan memunculkan risiko kambuhnya kanker yang pernah diidapnya. Terapi estrogen akan meningkatkan kepadatan jaringan payudara dan ini juga akan menyulitkan deteksi kanker (Khomsan 2002).

Namun demikian manfaat terapi estrogen itu sendiri telah diakui yaitu menurunkan risiko penyakit jantung, menurunkan risiko osteoporosis, dan mungkin menurunkan penyakit Alzheimer. Pada tahun 1993 National Education Cholesterol Program di AS mengakui pentingnya peranan terapi estrogen di dalam memperbaiki profil lipid (kolesterol) dan memperkecil risiko penyakit jantung. Mereka merekomendasikan terapi estrogen bagi wanita yang telah mengalami menopause yang level kolesterolnya tidak dapat dinormalkan sepenuhnya dengan diet dan olahraga (Khomsan 2002).

PENUTUP

Kesimpulan

Istilah menopause digunakan untuk mengatakan suatu keadaan dimana wanita berhenti dari haidnya selamanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi menopause diantaranya menarch, kondisi kejiwaan dan pekerjaan, jumlah anak, penggunaan obat-obat KB, merokok, cuaca dan ketinggian tempat tinggal dari permukaan laut serta sosial-ekonomi. Masa pramenopause, menopause dan pasca menopause dikenal sebagai masa klimakterium, sedangkan keluhan-keluhan yang terjadi pada masa tersebut disebut sebagai sindroma klimaterik. Gejala fisik yang dialami saat menopause adalah berupa rasa panas yang tiba-tiba menyerang bagian atas tubuh, keluar keringat yang berlebihan pada malam hari, sulit tidur, iritasi pada kulit, gejala pada mulut dan gigi, kekeringan vagina, kesulitan menahan buang air kecil, dan peningkatan berat badan. Di Indonesia banyak makanan dan tumbuhan yang mengandung hormon estrogen yang bisa dimanfaatkan yaitu tempe, pepaya, bengkuang, dan buah terong. Terapi estrogen telah diakui dapat merangsang peningkatan trigliserida, menurunkan risiko penyakit jantung, menurunkan risiko osteoporosis, dan mungkin menurunkan penyakit Alzheimer.

Saran

Perlu adanya dukungan psikologis untuk wanita yang mengalami menopause sehingga mereka memiliki kualitas hidup yang positif, karena menopause merupakan hal yang wajar. Selain itu, Dianjurkan pada wanita-wanita menopause untuk melakukan pemeriksaan kolesterol, dan bila profil lipid darahnya kurang baik segera lakukan modifikasi diet, gaya hidup dan olahraga. Bila hal ini juga tidak membantu konsultasikan pada ahli kesehatan untuk mendapatkan obat atau menjalani terapi estrogen.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2007. Menopause. http://www.women’s_health_concern.org. [08 September 2010].

Baziad, A. 2002. Seputar masalah menopause. www.klinik_perempuan.com. [08 September 2010].

Blackburn dan Davidson. 1990. Terapi kognitif untuk depresi & kecemasan suatu petunjuk bagi praktisi.  Semarang : IKIP Semarang.

Camellia Vita. 2008. Sindroma pascamenopause [skripsi]. Medan: Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara.

Drajat Z. 1994  Menghadapi Masa Menopause, Mendekati Usia Tua. Jakarta: Bulan Bintang.

Glasier A dan Gebbie A. 2006. Keluarga Berencana  dan Kesehatan Reproduksi (edisi 4). Cetakan pertama. Jakarta :ECG.

Kasdu. 2004. Kiat sehat & bahagia di usia menopause. Puspaswara. Jakarta: Gramedia.

Khomsan Ali. 2002. Dampak terapi estrogen pada wanita menopause. www.pasific_link.co.id. [08 September 2010].

Rahman I.A. 1995. Perubahan tubuh menjelang menopause & gejala serta tanda-tanda yang menyertainya.  Dalam simposium sehari masalah seputar menopause serta penanggulangan bagi wanita yang aktif. Jakarta: Levin, 5 Fak. Kedokteran. Universitas Indonesia.

Rostiana Triana. 2009. Kecemasan pada wanita yang menghadapi menopause [skripsi]. Depok : Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma.

Sastrawan S. 1997. Klimakterium dan Menopause. Ilmu Kandungan Eds. Wiknjosastro, H. Saifuddin AB. Rachimhadhi, T. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Siswono. 2001. Menghadapi menopause dengan jus papaya. www.gizi.net. [08 September 2010].

Takesihaeng J. 2000. Hidup sehat bagi wanita. Jakarta: Gramedia.

Thompson B. 2003. The Psyche of Estrogen Part I; Estrogen and Mood.  . http://www.ubcpharmacy.org/cpe/. [08 September 2010].

Winarsi H, Muchtadi D, Zakaria FR, dan Purwanto A. 2004. Respons hormonal-imunitas wanita premenopause yang diintervensi minuman fungsional berbasis susu skim yang disuplementasi dengan 100 mg isoflavon kedelai dan 8 mb Zn-sulfat (susumeno). Jurnal Teknol dan Industri Pangan XV (1): 28-34.